Di Ruang Angkasa, Api Berperilaku dalam Cara yang Tidak Diperkirakan Mungkin Terjadi

      Comments Off on Di Ruang Angkasa, Api Berperilaku dalam Cara yang Tidak Diperkirakan Mungkin Terjadi

Di Ruang Angkasa, Api Berperilaku dalam Cara yang Tidak Diperkirakan Mungkin Terjadi

Tes baru-baru ini di Stasiun Luar Angkasa Internasional telah menunjukkan bahwa api di ruang angkasa menjadi kurang dapat diprediksi dan berpotensi lebih mematikan daripada di Bumi. Kata insinyur ruang angkasa NASA, Dan Dietrich, mereka telah melakukan percobaan dimana mereka mengamati api yang menurut mereka tidak mungkin ada, tetapi sebenarnya ada. Dengan kata lain api berperilaku dalam cara yang tidak diperkirakan.

Baca Juga: 10 Fakta Tentang Ruang Angkasa

Api ini cukup mengejutkan ketika Anda menganggap bahwa pembakaran yang kemungkinan besar merupakan eksperimen kimia tertua manusia, yang hanya terdiri dari tiga bahan dasar: oksigen, panas, dan bahan bakar.

Di sini di Bumi, ketika api menyala, memanaskan udara di sekitarnya, menyebabkan udara memuai dan menjadi kurang padat. Tarikan gravitasi menarik udara yang lebih dingin dan lebih padat ke bagian dasar dari nyala api, menggantikan udara panas yang naik ke atas.

Proses konveksi udara ini memasok oksigen segar ke api, yang terus terbakar hingga kehabisan bahan bakar. Aliran udara ke atas adalah apa yang membuat nyala api berbentuk seperti tetesan air mata terbalik dan menyebabkannya berkedip.

Tetapi hal-hal aneh terjadi di ruang angkasa, di mana gravitasi kehilangan cengkeramannya pada benda padat, cairan dan gas. Tanpa gravitasi, udara panas yang memuai tidak bergerak ke atas. Nyala api tetap ada karena difusi oksigen, dengan molekul oksigen secara acak melayang ke nyala api.

Tidak ada aliran udara panas ke atas, api dalam keadaan mikro-gravitasi berbentuk kubah atau bulat dan lamban, berkat aliran oksigen yang sedikit. Jika Anda membakar selembar kertas dalam keadaan mikro-gravitasi, api akan perlahan-lahan merayap dari satu ujung ke ujung yang lain, kata Dietrich.

Baca Juga: 8 Cara Menjadikan Blog Anda Sumber Pendapatan Online

Astronot lain sangat bersemangat untuk melakukan percobaan tersebut karena api di ruang angkasa benar-benar terlihat sangat asing.

Api semacam itu mungkin tampak menakutkan bagi orang-orang yang terbiasa dengan sifat api di Bumi yang berubah-ubah. Tetapi api dalam kondisi mikro-gravitasi menjadi lebih kuat, karena mampu bertahan hidup dengan oksigen lebih sedikit dan tetap nyala untuk jangka waktu yang lebih lama.

NASA memiliki penerapan yang praktis dengan penelitiannya. Para ilmuwan berharap untuk belajar lebih lanjut jika bahan-bahan tertentu ternyata lebih mudah terbakar di ruang angkasa, dan dengan demikian maka bahan tersebut harus dihindari.

Eksperimen menunjukkan bahwa alat pemadam api stasiun ruang angkasa yang menyemprotkan gas ke api kurang efektif daripada saat di Bumi, karena alat tersebut mengarahkan udara (dan oksigen) ke api, sehingga menyediakan bahan bakar tambahan.

Selain itu, data yang diperoleh di stasiun ruang angkasa melalui eksperimen seperti membandingkan bagaimana api menyebar pada benda datar dan benda bulat akan membantu para insinyur lebih memahami perilaku dari bahan bakar dan api di Bumi, dimana sekitar 75 persen dari energi yang kita peroleh berasal dari beberapa bentuk pembakaran.

Para ilmuwan NASA sangat senang dengan penerapan potensial untuk jenis pembakaran aneh dan belum pernah terjadi sebelumnya yang mereka amati di luar angkasa pada musim semi yang lalu: ketika beberapa jenis bahan bakar cair terbakar, mereka terus membakar bahkan ketika api telah terlihat padam.

Pembakaran bahan bakar terjadi dalam dua tahap. Api pertama menyala dengan nyala api yang terlihat yang lalu akhirnya padam. Tapi tak lama kemudian, bahan bakar itu menyala kembali, mengambil bentuk “api dingin” yang membakar pada suhu yang lebih rendah dan tidak terlihat oleh mata telanjang.

Para ilmuwan belum memiliki penjelasan untuk fenomena ini. Tetapi para insinyur mengatakan bahwa jika proses kimia ini dapat diduplikasi di Bumi, hasilnya adalah mesin diesel yang menggunakan api dingin untuk menghasilkan lebih sedikit polutan udara.

Peneliti NASA Paul Ferkul mengatakan eksperimen mikro-gravitasi memberikan peluang unik untuk mempelajari dinamika api yang mendasarinya ‘dari sudut pandang yang lebih mendasar’ dengan melihat proses pembakaran ‘yang seharusnya dihalangi atau setidaknya diperumit oleh gravitasi.